SHAFIRA SI ANGGUN YANG TAK KENAL MENYERAH


Saya menyesal terlambat mengijinkan gadis sholihah ini masuk ke mafaza lebih awal.. Saat super manzil edisi April 2015 dibuka, Shafira termasuk yang daftar pertama. Sampai edisi ini, test seleksi ke super manzil demikian ketatnya. Jika tahsinnya bagus, mereka harus menjalani screening. Test screening adalah untuk mengetahui potensi menghafal qur’an. Dari test ini kami bisa memiliki gambaran akan hasil optimum pencapaian peserta disuper manzil. jika hasil screeningnya bagus, mereka harus melewati test terberat : TEST DURASI MAXIMUM.

Durasi maksimum adalah test untuk mengukur konsistensi, kesabaran, ethos kerja, daya tahan focus, durasi konsentrasi dan prediksi pencapaian hafalan qur’an selama sebulan nanti. Test ini berlangsung selama 17 jam. Dari jam 03.30 pagi sampai jam 21.00, hanya terpotong sholat, makan dan mandi. Dan Shafira sampai pada test tahap ini, namun di tahap ini ia tidak lulus.

Tidak sedikit peserta yang lulus malah mengundurkan diri karena mereka mengira bahwa aktivitas super manzil akan seperti schedule test durasi maksimum. Dan mereka tidak sanggup membayangkan aktivitas seberat itu harus berlangsung selama 30 hari penuh. Meski balasannya adalah kemampuan menghafal qur’an yang meningkat drastis.

Lain halnya dengan Shafira, gadis yang baru menginjak usia 14 tahun ini saat itu ( Sekarang 16 Tahun ) merasa menyesal dirinya tidak lolos ke super manzil. Jam 6 pagi ia menghadap kami untuk menanyakan bisakah dirinya di ijinkan merasakan super manzil meski sebagai peserta percobaan. Kami masih ingat betul moment itu. Shafira duduk dengan santun, ia hanya mengucapkan satu kalimat saja, “ustadz apakah saya bisa mengikuti super manzil?” selebihnya diam menunduk. Penuh harap.

Kami melihat lembar nilai shafira agak lama. Saat itu kami menilai shafira belum saatnya masuk ke super manzil, terlalu berat. Lalu “Shafira masih harus banyak tilawah… tilawahlah sesering mungkin.. sampai lidah akrab dengan ayat-ayat Qur’an” hanya itu jawaban untuk Shafira. Dan Shafira masih menunduk didepan kami.

Namun Shafira tak menyerah, selepas itu, remaja sholehah ini masih beberapa kali datang ke alhikmah bogor maupun ke MAFAZA, keinginannya utk menghafal sangat kuat. Hingga tibalah SUPER MANZIL ringan yang digelar selama 20 hari dibulan Ramadhan 2015 lalu. Di program ini Shafira baru berhasil menyetorkan hafalan sebanyak 6 juz, namun di ujung acara ia berhasil menemukan pola menghafal cepat dan kuat.

Pengalamannya di Super Manzil Ramadhan membuat Shafira berani mengajukan diri untuk masuk ke program Super Tahfidz. Sebuah program Tahfidz berkarakter yang salah satu syaratnya adalah harus memiliki kemampuan menghafal minimal 6 juz perbulan. Namun ia belum di ijinkan masuk ke program tersebut.

Lagi-lagi Shafira tak menyerah, Shafira masuk menjadi santri reguler di MAFAZA, dirumah tahfidz inilah remaja yang tak banyak bicara ini membuktikan tekadnya. Ia menunjukkan kepada kami bahwa keinginannya menjadi seorang hafidzoh tidak main-main. Ia datang bukan karena permintaan orangtuanya, tapi tuntutan dari dirinya sendiri. Disini ia mengasah kemampuannya hingga melesat bak meteor.. Shafira masuk pada tanggal 10 Agustus dan khatam pada 10 Oktober 2015. Allohu akbar.. Hanya butuh waktu dua bulan saja untuk menyelesaikan setoran bil ghoib seluruh Al-Qur’an.

Setiap saya tiba MAFAZA, saya menemukan Shafira tengah menghafal tanpa suara. Ia duduk menggenggam mushaf disudut ruangan. Di mafaza kebanyakan anak-anak sangat ceria dan ekspresif, namun Shafira yg paling anggun. ekspresinya datar dan lebih banyak focus pada Qur’an. Ia benar-benar hemat dalam berbicara.

Saat tiba-tiba saya diundang pada acara tasmi’nya, saya agak menyalahkan diri sendiri.. kenapa dulu saya tidak membaca betapa besar keinginan anak ini untuk menjadi seorang ahlul Qur’an. Kenapa tidak dari dulu mengijinkan gadis ini masuk mafaza. Namun.. Alhamdulillah keputusan kami tidak terlambat. Dan yang penting kami berhasil membantunya untuk menjadi anak yang mempersembahkan mahkota syurga buat kedua orangtuanya.

Sesaat sebelum khotmil ia datang mengajukan libur kepada saya, “buat apa libur, kan Shafira masih harus menyelesaikan muroja’ah?” tanya saya. “saya ingin mengajari Qur’an kepada adik saya, kasihan dia. Ummi dan abi sibuk.” “MasyaAllooh.. Shafira ingin mengajari adiknya menghafal Qur’an?” saya menyambutnya dengan bangga. “iya, sekalian ingin bantu-bantu ummi juga dirumah” jawabnya pelan.

MasyaAlloh… tabarokalloh.. bergaul dengan generasi qur’an yang hebat-hebat dimafaza, menjadikan kepedihan terhadap rusaknya kehidupan remaja diluaran sana terobati… ya Alloh kami ingin menyaksikan lebih banyak lagi remaja Indonesia ini berbondong-bondong mengakrabi Al-Qur’an. Agar jiwa mereka sehat dan masa depannya selamat

NEXT

Comments

Populer

Full Modul Kuliah "Teknik Informatika" Universitas Pamulang - UNPAM

Luas dan Keliling Segitiga, Persegi Panjang, dan Lingkaran

Full Modul Kuliah "Teknik Informatika"