Dalam Timbangan Ulama

Berbeda dengan para Ulama semisal Al Imam Asy Syafi’i, Al Imam Ahmad bin Hanbal, Al Imam An Nawawi, Al Hafizh Al Imam Ibnu Hajar Al Asqallani yang disepakati kesalehan dan keulamaannya oleh seluruh ummat di penjuru dunia, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ini merupakan tokoh kontroversial yang diperselisihkan kredibilitasnya. Sebagian menganggapnya sebagai pembaharu namun sebagian lain menganggapnya sebagai penebar kesesatan. 

Mereka yang berada pada kelompok pertama melihat bahwa kehadiran Muhammad bin Abdul Wahhab adalah tokoh yang gigih menyelamatkan Akidah Islamiyah dari berbagai penyimpangan berupa kemusyrikan, khurafat dan bid’ah. Ia menyaksikan bahwa kaum muslimin telah terjatuh dalam amaliah jahiliyah berupa penyembahan terhadap kuburan, para Wali dan orang-orang saleh baik melalui tabarruk atau tawassul mereka dalam berdo’a kepada Allah. Oleh karena itu segala sarana yang akan mengantarkan manusia ke dalam kemusyrikan tersebut harus dimusnahkan. 
 
Dari fatwanya inilah kemudian seluruh kuburan para sahabat Rasulullah SAW, kubah-kubah makam keluarga beliau bahkan bangunan tempat di mana Rasulullah SAW dilahirkan dihancurkan diratakan dengan tanah. Belakangan Syekh Albani (sebagai salah seorang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab) bahkan menganjurkan agar Kubah hijau Masjid Nabawi di Madinah yang memayungi pusaran Rasulullah SAW dihancurkan. Pendek kata semua tempat atau benda-benda bersejarah harus dihancurkan karena khawatir disembah atau ditabarruki oleh manusia. Berbagai kegiatan seperti peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW harus dihentikan karena perbuatan tersebut merupakan bid’ah. 

Beberapa waktu yang lalu sempat berkembang wacana untuk menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang masih tersisa, namun alhamdulillah rencana tersebut dibatalkan karena kementrian yang ditunjuk tidak bersedia melaksanakannya karena banyak ditentang para Ulama termasuk KH Ma’ruf Amin dari Pimpinan Pusat Majleis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan dalam bidang Fiqh menurut pengakuannya Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mengikuti Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Missi Muhammad binAbdul Wahhab mendapat kemudahan karena berkolaborasi dan mendapat dukungan dari Kerajaan keluarga Sa’ud yang telah berhasil merebut kekuasaan wilayah Hijaz dari Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. 

Adapun sebagian besar Ulama dan Ummat Islam berpendapat lain. Mereka menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai tokoh penebar kesesatan. Mereka bahkan mengaitkannya dengan sebuah Hadis :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى شَأْمِنَا ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى يَمَنِنَا » . قَالُوا وَفِى نَجْدِنَا . قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى شَأْمِنَا ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى يَمَنِنَا » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِى نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِى الثَّالِثَةَ « هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ » .رواه البخاري

Artinya : “Artinya: Rasulullah SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berkatilah untuk kami Syam kami, ya Allah, berkatilah untuk kami Yaman kami”. Para sahabat berkata: “Untuk Najd kami juga wahai Rasulullah”. Rasulullah SAW berdo’a lagi: ““Ya Allah, berkatilah untuk kami Syam kami, ya Allah, berkatilah untuk kami Yaman kami”. Para sahabat berkata: “Untuk Najd kami juga wahai Rasulullah”. Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAW bersabda: “Dari Najd-lah akan munculnya kegoncangan dan berbagai Fitnah dan di Najd itulah akan terbit tanduk Syetan” (HR Al Bukhari).

Menurut kelompok kedua ini, terpenuhinya ramalan Rasulullah SAW ini adalah dengan kedatangan Muhammad bin Abdul Wahhab karena secara kebetulan ia lahir di Najd dan missinya telah menimbulkan banyak kekacauan di dunia Islam. Mufassir kenamaan Al Imam Syekh Ahmad Shawi Al Maliki dalam tafsirnya bahkan menyebut kelompok Wahhabiyah pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai Khawarij zaman ini. Ketika menafsirkan firman Allah :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (فاطر:6)

Artinya: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Fathir:6).

Ash Shawi menulis :

وَقِيْلَ هَذِهِ الْاَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ الْاَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِاَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمْ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ عَلَى شَيْئٍ اَلَا اِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (المجادلة:19)

Artinya : “Dalam satu pendapat dikatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kaum Khawarij yang menyelewengkan makna Al Qur’an dan Sunnah serta menghalalkan darah kaum Musliimin dengannya sebagaimana juga dapat disaksikan saat ini orang-orang yang seperti mereka yaitu sebuah aliran di negeri Hijaz yang bernama Wahhabiyah. Mereka ini mengira berada dalam kebenaran. Ketahuilah, sungguh mereka itu benar-benar para pendusta. Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi”(Al Mujadalah:19) (Lihat Tafsir Ash Shawi ‘Aala Al Jalalain terbitan Dar Ihya Al Kutub Al ‘Arabiyah Mesir pada Juz3 halaman 307-308).

Seorang Ulama terkenal dari Purwakarta Jawa Barat, Ahmad Bakri Sempur bin Tubagus Seda Kraton yang lebih dikenal dengan nama Mama Sempur Rahimahullah menulis sebuah risalah kecil berjudul: ايضاح الكراطنية فيما يتعلق بضلالة الوهابية (Penjelasan Keraton Berkaitan Dengan Kesesatan Aliran Wahhabiyah).

Hizbut Tahri Indonesia (HTI) memiliki catatan tersendiri tentang Wahhabi ini :

“perjuanagan Wahhabi akhirnya ditunggangi oleh keluarga Saud, yang nota bene antek-antek Inggris, untuk menciptakan instabilitas dan sparatisme di dalam tubuh Khilafah Islam pada waktu itu” (Buletin Dakwah Al Islam Edisi 468/tahun XVI halaman 3).

Seorang Muhaddits (pakar Hadis) abad ini Syekh Abdullah Al Harari mengemukakan tidak kurang dari 83 orang Ulama besar yang menyatakan kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab (Lihat kitabnya Al Maqalat As Sunniyyah halaman 250-251). Bahkan banyaknya Ulama yang menentang Muhammad bin Abdul Wahhab ini dikemukakan oleh para pengikutnya, antara lain Doktor Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Al Abd Al Aziz dalam kitabnya Da’awa Al Munawi’in (lihat kitab tersebut terbitan Maktabah Ar Rusyd Riyad Saudi Arabia mulai halaman 47).

Kami tidak berhak menghakimi mana yang benar dan mana yang salah di antara kedua kelompok di atas. Bagi yang hendak mendalami dan mengetahui lebih jauh silahkan bertanya kepada para Ulama atau membaca kitab-kitab mereka. Ironis memang, ketika ada orang yang baru membaca buku-buku terjemahan dan penjelasan dari orang-orang yang bukan Ulama sudah berani mempromosikan sebuah ajaran seraya menganggap bahwa yang selainnya adalah salah. Mereka mengira bahwa yang diraihnya dari atas perahu itu adalah mutiara, padahal ia berada di dasar samudera. Mengapa mereka – sebagai orang awwam – tidak diam saja sambil mengamalkan yang diyakininya. 

NEXT

Comments

Populer

Full Modul Kuliah "Teknik Informatika" Universitas Pamulang - UNPAM

Luas dan Keliling Segitiga, Persegi Panjang, dan Lingkaran

Full Modul Kuliah "Teknik Informatika"