CICIT SANG LEGENDA


Disya Fadhila Melianta. Gadis berumur 15 tahun ini merupakan cicit dari seorang pria yg paling besar jasanya dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia. Hasil karyanya bahkan dipakai hingga hari ini diberbagai negara Di Asia dan Afrika. Juga Eropa. Beliau adalah K.H. As’ad Humam.

Jadi, saya kenalkan dulu buyutnya ya.. Kakek buyutnya Disya ini, yakni KH. As’ad Humam, merupakan penemu metode IQRO. Meski metode Qiro'ati lebih dulu lahir sebagai metode baca Qur'an yg efektif. Namun metode IQRO lebih revolusioner sehingga lebih banyak dipakai diseluruh penjuru negeri.

Meski saat ini muncul beragam metode baca Qur'an diberbagai kota di Indonesia, dan dipakai diberbagai SDIT, namun buku Iqro masih nomor satu yg paling banyak digunakan diberbagai pelosok negeri. Hal ini karena kepraktisannya.

Mampukah anda bayangkan berapa pahala yg Allah berikan pada kyai As’ad. Yg melalui dirinya ratusan juta kaum muslimin bisa baca Qur'an dengan mudah. Dan buku hasil karyanya masih dimanfaatkan hingga detik ini. Allahu Akbar, Membayangkan memiliki investasi akhirat semegah itu.

Namun tahukah anda, kyai As’ad yg legendaris itu memiliki kekurangan fisik yg merepotkan. Kakek yg lahir pada 1933 ini cacat sejak remaja. Beliau terkena penyakit pengapuran tulang belakang.

Meski pernah dirawat di sebuah rumah sakit selama satu setengah tahun, namun beliau tak mampu bergerak dengan leluasa sepanjang hidupnya. sekujur tubuhnya mengejang dan sulit untuk dibungkukkan. Dalam keseharian, sholatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus, tanpa bisa melakukan posisi ruku’ ataupun sujud. Bahkan untuk menengok pun harus membalikkan seluruh tubuhnya.

Bu Salma, cucu sang kyai datang ke bogor menyerahkan putrinya untuk kami bimbing jadi hafidzoh. Masya Allah.. Serasa Allah menyambungkan silaturahim dengan sang kyai.

Seakan pak kyai As’ad sendiri yang menitipkan Disya. Saya dan para musyrifah bertekad menjaga kepercayaan ini, akan memberi sebaik baik bimbingan. Namun ternyata Disya sakit sakitan. Sehingga kami tak bisa maksimal membimbingnya. Super manzil Desember 2015 yang hanya berlangsung selama sebulan, hanya 30% waktu yg bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh kami dan Disya. Sebab gadis pendiam ini sakit selama 3 pekan. Demikian pun pada super manzil ramadhan yg lalu, hanya setengah program fisik Disya fit. Ia sering pingsan dan terbaring ditempat tidur.

Namun hebatnya, gadis ini tak pernah mau dibawa pulang meski kondisinya lemah. Meski kami semua dan ayah bundanya panik atas kondisinya, Disya memohon untuk tetap di izinkan berjuang menghafal di super manzil. Ia tak mau melewatkan atmosfer menghafal Qur’an sekental super manzil. Tangannya tak mau lepas dari mushaf meski tim medis kami mewajibkannya untuk istirahat.

Hasilnya menakjubkan, ia selalu bisa setor hafalan. Saya meminta pada ibunya agar Disya ikut super manzil lagi di pertengahan Desember 2016. Saya ingin menghadiri tasminya. Bulan Desember 2016 kami semua ingin mengucapkan selamat atas kegigihannya berjuang menjadi hafidzoh. Engkau tabah seperti kakekmu. Dan kami semua berdo’a semoga kelak, gadis shalehah ini bisa mengikuti jejak sang kakek. Memberi manfaat bagi jutaan kaum muslimin.

NEXT

Comments

Populer

Full Modul Kuliah "Teknik Informatika" Universitas Pamulang - UNPAM

Luas dan Keliling Segitiga, Persegi Panjang, dan Lingkaran

Full Modul Kuliah "Teknik Informatika"